PARTAI-PARTAI
MENUJU ISTANA
20/09/09 16:56
 
Muluskan Jalan Menteri di Sela Lebaran?
R Ferdian Andi R
Ahmad Mubarok
[inilah.com /Raya Abdullah]

INILAH.COM, Jakarta - Lebaran tahun ini tak begitu lama jaraknya dengan penyusunan kabinet pemerintahan baru, yang menurut rencana dimulai 1 Oktober. Tak mengherankan bila momentum silaturahim Lebaran pun bakal dimanfaatkan para elit untuk ajang menggosok jagoannya sebagai menteri.

Sebulan penuh ini elit politik sepertinya telah menahan diri untuk membicarakan persoalan kabinet. Kini ketika Lebaran datang, sepertinya hasrat untuk membincangkan kabinet kembali terpicu. Apalagi, dari sisi waktu, pembentukan kabinet dalam hitungan hari. Upaya lobi politik mendudukkan kader partai maupun calon independen menjadi menteri kabinet pun menemukan momentumnya.

Namun menurut Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok, soal menteri sudah ada di kepala Presiden SBY. Karenanya, momentum silaturahim Lebaran tidak bisa dicampuradukkan dengan lobi kabinet. "Silatruahim Lebaran ya silaturahim. Jadi tidaklah silaturahim untuk lobi menteri," kata Mubarok kepada INILAH.COM, di Jakarta, Sabtu (19/9).

Menurut dia, tidak relevan silaturahim selama Idul Fitri digunakan untuk lobi politik. Apalagi, menurut gurubesar Psikologi Islam di UIN Jakarta ini, nama menteri pun kini sudah ada di kepala SBY, meski tak seorang pun mengetahuinya. "Nama menteri sudah ada di kepala beliau, stafnya pun tidak tahu," tegasnya.

SBY sendiri sepertinya tak memiliki waktu banyak dalam menggelar silaturrahim selama Lebaran ini. Karena hari ketiga Lebaran, SBY dijadwalkan menghadiri sidang G20 di Amerika Serikat selama sehari, kemudian langsung menuju ke Jepang untuk acara kunjungan kenegaraan.

Sementara Partai Demokrat, menurut Mubarok, belum menyusun agenda khusus dalam rangka Lebaran tahun ini. Justru menurut Mubarok, Idul Fitri menjadi momentum berkumpul dengan keluarga besar. "Lebara untuk keluarga, sementara istirahat dulu soal politik," selorohnya.

Hal senada disampaikan Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Irgan Choirul Mahfiz. Menurut dia, tidak tepat bila Lebaran digunakan untuk membincangkan urusan kabinet. Terlebih Presiden SBY menegaskan, baru awal Oktober nanti akan merekrut calon menterinya. "Kurang etis ya membicarakan kabinet di masa-masa Lebaran, di saat orang saling memaafkan," paparnya.

Sementara Ketua Majelis Syura DPP PKS Hilmi Aminuddin menegaskan, momentum Lebaran harusnya menjadi media rekonsiliasi antarelit. Menurut dia, suasana ekonomi yang masih belum bangkit dan bencana melanda di beberapa daerah, harusnya menjadi pemantik bagi elit untuk bersatu. "Khususnya para elit menjadikan Lebaran ini sebagai momentum melakukan rekonsiliasi nasional," ujarnya.

Ia justru mengajak masyarakat untuk meningkatkan empati antarsesama di saat Lebaran tiba. "Bukan untuk pamer dan bukan untuk acara hura-hura, sesuai dengan suasana sejuk di Ramadhan yang kita bangun ini. Dan semoga suasana taat ini, pada syawalnya nanti juga harus tetap taat dan jangan melakukan maksiat lagi," ungkapnya.

Bisa saja para elit menepis media silaturahim sebagai ajang komunikasi untuk membincangkan soal kursi kabinet. Karena, tidak salah juga saat upaya bermaaf-maafan komunikasi politik soal kabinet dilakukan. Apalagi, dari segi waktu, 1 Oktober tidaklah lama dari momentum Lebaran ini. [P1]

[ Baca Komentar (1)   |   Kirim Komentar ]
IPhA - POLITIK
AKAN TEMPUH JALUR HUKUM
Brigjen Edmon Ilyas (kanan) dan Raja E Rizman saat menghadiri jumpa pers mengenai markus pajak di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (19/3). Dua jenderal yang disebut Komjen Pol Susno Duadji terlibat dalam markus pajak di Mabes Polri, akan menuntut secara pidana dan perdata.
inilah.com/Agung Rajasa